Saturday, November 10, 2012

Surat Cinta untuk Suamiku

6/11/2012 | 20 Dhul-Hijjah 1433 H | Hits: 3.164
Oleh: Wulan Ummu Kayyisah
Kirim Print
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Alhamdulillah, dua tahun sudah Allah menakdirkan kami bersama mengarungi perjuangan. Saat memulai bahtera ini kami benar-benar memulainya dari bawah, bahkan kami tak memiliki apapun saat itu. Hanya keyakinan kepada Allah bahwa Dia akan senantiasa mencukupkan rizki kami, insya Allah.
”Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya jalan keluar (dari setiap permasalahannya).Dan Dia (Allah) akan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya”. (QS. At- Tholaq: 2 -3)
Sekarang, ia tengah berlelah-lelah dan berpeluh keringat untuk membangun mimpinya. “Mas ingin Adik bisa hidup nyaman dan berkecukupan”, itu yang sering diucapkannya.  Semoga kedua tangan yang tiap hari dia gunakan untuk berjuang menafkahi kami, termasuk ke dalam tangan-tangan yang takkan pernah tersentuh api neraka. Seperti halnya tangan sahabat nabi Sa’ad bin Mu’adz Al-Anshari, di mana suatu hari Rasulullah SAW berjumpa dengannya. Ketika itu Rasul melihat tangan Sa’ad melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari. “Kenapa tanganmu?” tanya Rasul kepada Sa’ad. “Wahai Rasullullah,” jawab Sa’ad, “Tanganku seperti ini karena aku mengolah tanah dengan cangkul itu untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku”. Seketika itu beliau mengambil tangan Sa’ad dan menciumnya seraya berkata, “Inilah tangan yang tidak akan pernah tersentuh api Neraka.”
Setiap kali aku marah, maka dengan sabar dia akan memegang ubun-ubunku, dan mengucapkan doa yang sama ketika dulu pertama kali kami shalat bersama, “Allahumma inni asaluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi wa a’udzu bika min syarriha wa min syarri ma jabaltaha ‘alaihi. Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa.”
Lalu,  ketika seringkali aku bertanya, “Apakah benar Mas mencintai saya?” “Apa bukti Mas mencintai saya?” Maka dia akan berkata, “Dik, ingatkah ketika suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, ‘Aku mencintaimu lebih dari segalanya, kecuali jiwaku sendiri’. Saat itu Rasulullah menjawab, ‘Tidak seorang pun di antara kamu yang beriman, sehingga aku lebih dicintainya daripada jiwanya sendiri’. Umar segera menjawab, ‘Demi Dzat yang menurunkan kitab suci Al-Quran ini kepadamu, aku mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri’. Begitu mudahnya bagi Umar untuk mengubah cintanya, karena sesungguhnya cintanya kepada Rasulullah bukan sebatas kata-kata melainkan berupa ketaatan dan kerelaan untuk berkorban. Begitu pun dengan mas. Mas mencintai Adik, maka mas akan selalu berusaha memberi yang terbaik untuk Adik.” Ya, sekarang aku pun mengerti. Cinta memang tak selalu berwujud kata-kata romantis, bisikan mesra atau tatapan sayang seperti yang sering digembar-gemborkan drama-drama picisan. Cinta lebih merupakan perjuangan yang tak jarang berlumur peluh dan air mata.
Masih pula kuingat ketika dulu dia bertanya, “Mau menjadi muslimah seperti apa Adik ini?” “KHADIJAH istri yang lemah lembut, senantiasa mendukung dan menyertai suaminya dalam perjuangan. AISYAH istri yang pandai menyenangkan hati, ceria, cerdas. UMMU SALAMAH istri yang bijaksana. ZAINAB istri yang sangat dermawan”. Maka saat itu aku belum bisa menjawabnya, dan begitu pun sekarang. Ah, rasanya malu sekali, aku tak mungkin menjadi seperti wanita-wanita mulia itu. Aku hanya sedang berusaha menjadi sebaik-baik istri baginya, sehingga setiap hari sebelum memejamkan mata, dia selalu dalam keadaan ridha kepadaku.
Suatu hari Rasulullah SAW berkata kepada para sahabatnya, “Maukah kalian aku beri tahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab, “Tentu saja wahai Rasulullah” Nabi SAW menjawab,” Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata, ‘Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.” (HR. Ath-Thabrani)
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat kepada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, ‘Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad)

Suamiku…
Ini bukan ikrar biasa
Ini mitsaqon golidzo
Yang ketika kau ucap ikrar itu
Maka ‘Arsy pun ikut bergetar karenanya
Suamiku…
Ini bukan bangunan biasa
Ini adalah bangunan peradaban
yang kan kita susun batu batanya
Bersama Alfatih Alfatih kita
Suamiku…
Ini bukan keluarga biasa
Ingatkah ketika kau katakan akan mewakafkan dirimu dan diri kami?
Maka keluarga ini adalah keluarga dakwah
Keluarga jihad
Suamiku…
Maukah kau kita berkumpul lagi di Surga-Nya?
Maka, jangan pernah berhenti mendidik kami
Seperti Imran dan Luqman mendidik keluarganya

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/23966/surat-cinta-untuk-suamiku/#ixzz2Br18cEdd

Wednesday, November 7, 2012

to study:
http://azamrussiakita.blogspot.ca/p/kuliah-azam-online.html

Sesungguhnya, apabila seorang muslim bertindak dalam membuat keputusan sepertimana yang Allah kehendaki dan gariskan, kita akan membuat keputusan yang akan menggembirakan Allah s.w.t dan seperti yang diimani, apabila Allah gembira dengan seorang muslim, Dia akan menggembirakn muslim itu kembali dengan pelbagai nikmat yang tidak terjangkau batasnya.

Dalam membincangkan perkara was - was dan ragu dalam memilih pasangan, seharusnya kita meletakkan sepenuh keyakinan terhadap Allah s.w.t.. Hati kita seharusnya tunduk kepada Allah kerana penyakit was-was itu diamnya di dalam hati, dan bukan di dalam otak, jadi sentiasa meletakkan kehadiran Allah s.w.t di dalam hati - hati kita.

Sunday, October 28, 2012

antara benda yang paling penting sekali kena ada, adalah the ability to not speak everything you think immediately, or think thru speaking, but at the same time can not hold back everything you feel.

say just enough.

pesanan a married ukhti.

Tuesday, October 23, 2012

communication skills

terngiang2 an ukhti told me, jangan call di kala exams. i should really follow and stick to the advise. when lah will you learn dear self? why you never learn???

when ure trying to convey A, and everyone reads it with X, Y, and Z.
innalillah. dan salah faham ini, dari Allah juga. ujian inshaAllah.

but really, females have to stop reading between the lines. i mean what i said and full stop! theres no double meaning, theres nothing to my tone, i mean what i said.

but then, if everyone is hurt and misinterpreted you, then the problem might come from you???

"i dont know why you like drama so much"-that hurt. seriously.

and i dont know, but everytime people read me the exact opposite of what im trying to say, i just give up on trying to communicate my message. i'd just leave the conversation. is that a right thing to do? probably not. but the more i try to explain, the angrier they get.

saya tak pandai bercakap agaknya.

BUCK UP dear self. u've an exam tomorrow. 

Friday, October 19, 2012

“Jamilah, mak bukan tak bagi kamu berkahwin tetapi kamu mesti memahami bahawa perkahwinan itu bukan sekadar kenduri kendari yang gilang gemilang, bukan sekadar penyatuan antara seorang lelaki dan wanita dan bukan sekadar fasa bercinta secara halal semata-mata, tetapi perkahwinan itu datang bersama tanggungjawab yang berbagai. Oleh sebab itulah mak bertanya kamu sama ada kamu sudah bersedia atau belum.”
“Mak rasa saya memang tak bersedia lagi ke?” Jamilah bertanya, Nampak naïf sungguh.
“Mmm kalaulah lepas subuh tidur, sarapan pun mak yang sediakan.  Masak masih terkial-kial. Layan budak-budak pun  tak berapa pandai. Macammana kamu nak menguruskan rumahtangga kamu nanti?”
“Itu belum lagi tengok cara kamu mengawal emosi, sekejap merajuk sana, sekejap melenting sini, haih kalau begitulah caranya letihlah suami kamu nak melayan karenah kamu nanti.”
“Jamilah, sebagai seorang wanita kita mesti ada cita-cita besar dan kita mesti jelas dengan matlamat perkahwinan kita itu. Kita mahu menjadikan keluarga kita itu keluarga yang cemerlang dunia dan akhirat. Sekiranya perkara-perkara asas pun kita masih terkial-kial, selepas kahwin baru nak belajar memasak, jaga anak dan sebagainya bila masanya kita nak memikirkan tentang agenda keluarga?”
“Kita sebagai isteri mesti menjadi tulang belakang suami kita. Kita mesti kuat dari mental, fizikal dan spiritual. Kalau kamu nak berkahwin, mak rasa kamu perlu ubah cara hidup kamu. Bangun awal pagi, selesaikan urusan rumah seperti memasak, mengemas dan sebagainya. Kemudian, kamu perlu bijak mengawal emosi, jangan terlalu mengikut perasaan. Mak nak kamu jadi orang yang lebih matang. Kalau kamu ada ciri-ciri tu, tak payah tunggu hujung tahun, hujung bulan ni pun mak setuju kamu nak kahwin.”
 
http://finurislam.blogspot.ca/

your main criterion

for some women, ciri paling penting dia adalah "rupo comey".
dan ofcourse still nak yang beriman etc. tapi first yang terfikir adalah kulit putih, tinggi, etc.

dan dia dapatlah. but then 20 years down the road, don't complain kalau si suami yang kacak itu langsung tidak membantu di dapur hatta mengangkat pinggan sendiri, langsung tidak entertain kesukaan isteri (shopping mahupun jalan-jalan), dan tidak membantu dengan birrul walidain melainkan diminta.

for some men, ciri paling penting dia adalah "rupo comey".
dan ofcourse still nak yang beriman etc. tapi first yang terfikir adalah kulit putih, mata bulat, etc.

dan dia dapatlah. but then 20 years down the road, don't complain kalau si isteri yang jelita itu pemarah orangnya, sering meninggikan suara dengan suami, sentiasa bizi di ofis, dan sebagainya.

what you want, you can get.

dan pilihlah kerana agama, nescaya kamu akan beruntung.

dan pilihlah kerana agama, nescaya kamu akan beruntung.

dan pilihlah kerana agama, nescaya kamu akan beruntung.