Saturday, March 2, 2013


#1 their women problem may be oblivious to us, but its real.
#2 always greet your husband with a smile!

true.
for 1-2, 6-7, go here: 7 things your muslim wife wont tell you

Friday, March 1, 2013

5 BEKAL BAGI ISTRI AKTIVIS DAKWAH


5 BEKAL BAGI ISTRI AKTIVIS DAKWAH


Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan, trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan dan piawai di tempat tidur. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

1. Bekalan Yang Bersifat Pemahaman (fikrah).

Hal penting yang harus dipahami oleh istri seorang aktivis dakwah, bahwa suaminya tak sama dengan ‘model’ suami pada umumnya. Seorang aktivis dakwah adalah orang yang mempersembahkan waktunya, gerak amalnya, getar hatinya, dan seluruh hidupnya demi tegaknya dakwah Islam dalam rangka meraih ridha Allah. Mendampingi seorang aktivis adalah mendampingi seorang prajurit Allah. Tak ada yang dicintai seorang aktivis dakwah melebihi cintanya kepada Allah, Rasul, dan berjihad di jalan-Nya. Jadi, siapkan dan ikhlaskan diri kita untuk menjadi cinta ‘kedua’ bagi suami kita, karena cinta pertamanya adalah untuk dakwah dan jihad!

2. Bekalan Yang Bersifat Ruhiyah.

Berusahalah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Jadikan hanya Dia tempat bergantung semua harapan. Miliki keyakinan bahwa ada Kehendak, Qadha, dan Qadar Allah yang berlaku dan pasti terjadi, sehingga tak perlu takut atau khawatir melepas suami pergi berdakwah ke manapun. Miliki keyakinan bahwa Dialah Sang Pemilik dan Pemberi Rezeki, yang berkuasa melapangkan dan menyempitkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. Bekalan ini akan sangat membantu kita untuk bersikap ikhlas dan qana’ah ketika harus menjalani hidup bersahaja tanpa limpahan materi. Dan tetap sadar diri, tak menjadi takabur dan lalai ketika Dia melapangkan rezeki-Nya untuk kita.

3. Bekalan Yang bersifat Ma’nawiyah (mentalitas).

Inilah di antara bekalan berupa sikap mental yang diperlukan untuk menjadi istri seorang aktivis: kuat, tegar, gigih, kokoh, sabar, tidak cengeng, tidak manja (kecuali dalam batasan tertentu) dan mandiri. Teman saya mengistilahkan semua sikap mental ini dengan ungkapan yang singkat: tahan banting!

4. Bekalan Yang bersifat Aqliyah (intelektualitas).

Ternyata, seorang aktivis tidak hanya butuh pendengar setia. Ia butuh istri yang ‘nyambung’ untuk diajak ngobrol, tukar pikiran, musyawarah, atau diskusi tentang kesibukan dan minatnya. Karena itu, banyaklah membaca, rajin mendatangi majelis-majelis ilmu supaya tidak ‘tulalit’!

5. Bekalan Yang Bersifat Jasadiyah (fisik).

Minimal sehat, bugar, dan tidak sakit-sakitan. Jika fisik kita sehat, kita bisa melakukan banyak hal, termasuk mengurusi suami yang sibuk berdakwah. Karena itu, penting bagi kita untuk menjaga kesehatan, membiasakan pola hidup sehat, rajin olah raga dan lain-lain. Selain itu, jangan lupakan masalah merawat wajah dan tubuh. Ingatlah, salah satu ciri istri shalihat adalah ‘menyenangkan ketika dipandang’.

Akhirnya, ada bekalan yang lain yang tak kalah penting. Itulah sikap mudah memaafkan. Bagaimanapun saleh dan takwanya seorang aktivis, tak akan mengubah dia menjadi malaikat yang tak punya kesalahan. Seorang aktivis dakwah tetaplah manusia biasa yang bisa dan mungkin untuk melakukan kesalahan. Bukankah tak ada yang ma’shum di dunia ini selain Baginda Rasulullah?


Sumber : Dakwatuna

Tuesday, February 26, 2013


Dalam menentukan pasangan hidup, tentunya di awal pernikahan kita harus benar-benar meluruskan niat, yakni menikah kerana Allah semata. Allah yang menjanjikan kita hidup berpasang-pasangan, dan Allah pula yang memerintahkan kita untuk menikah.

Bahkan, pernikahan pun tidak mungkin terjadi kecuali dengan izin-Nya. Begitu pula kebahagiaan yang kita rasakan,tiada lain adalah kerana pertolongan-Nya.

Rasulullah SAW bersabda : " Barangsiapa memberi kerana Allah,menolak kerana Allah,mencintai kerana Allah,membenci kerana Allah,dan menikah kerana Allah,maka sempurnalah imannya" (H.R Abu Dawud)

Betapa indahnya jika proses pernikahan mengutamakan pertimbangan Lillah, Billah,dan Ilallah semata. Lillah berarti meniatkan pernikahan tersebut hanya kerana Allah. Billah berarti proses dan cara yang ditempuhi sesuai dengan ketentuan dari Allah.Termasuk di dalamnya adalah kriteria memilih calon suami atau isteri, dan proses menuju jenjang pernikahan pun tidak dinodai oleh kemaksiatan yang perturutkan hawa nafau.Terakhir adalah Ilallah, yakni meluruskan tujuan pernikahan untuk menggapai keridhaan Allah.

Sekali lagi, kebahagiaan dan hadiah istimewa ini hanya diberikan Allah kepada mereka yang menikah dengan landasan Lillah, Billah, dan Ilallah.



Kelab Ikram Mesir


Wednesday, February 6, 2013

isteri solehah

Seperti Apa Istri yang Shalihah Itu?

Rubrik: Wanita | Oleh: Erwin Sulaiman - 29/01/13 | 10:30 | 16 Rabbi al-Awwal 1434 H
Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com - Terbayang di benak kita, istri shalihah adalah wanita yang senantiasa menjaga shalat, banyak melakukan shalat sunnah, berpuasa bulan Ramadhan, menunaikan ibadah haji, rajin melaksanakan ibadah umrah, tak pernah berhenti berdzikir kepada Allah dan komitmen menjaga hijab dan memelihara rumah.
Pemahaman seperti itu tidak salah –insya Allah- bila dilihat dari sisi kepentingan pribadi wanita itu sendiri. Akan tetapi, pemahaman itu masih kurang sempurna bila membaca hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkaitan dengan penjelasan beliau tentang definisi wanita shalihah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
Tidak ada perkara yang lebih bagus bagi seorang mukmin setelah bertaqwa kepada Allah daripada istri yang shalihah. (Yaitu), bila ia menyuruhnya maka ia mentaatinya, bila suami memandangnya membuat hati senang, bila bersumpah maka ia mendukungnya, dan bila ia pergi maka ia dengan tulus menjaga diri dan hartanya.” (HR. Ibnu Majah).
Dari Sa’ad bin Abi Waqqas rahimahullah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Empat hal yang termasuk kebahagiaan, yaitu istri yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan kendaraan yang nyaman. Dan empat hal termasuk penderitaan adalah tetangga yang buruk, istri yang buruk, kendaraan yang buruk dan tempat tinggal yang sempit. (HR. Ahmad).
Dalam hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, wanita shalihah merupakan salah satu sebab kebahagiaan dari empat sebab kebahagiaan. Dan sebaliknya, wanita yang tidak shalihah merupakan salah satu dari empat penyebab kesengsaraan. Hadits Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam berikut mempertegas hal tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dan di antara kebahagiaan adalah wanita shalihah. Jika engkau memandangnya, engkau akan kagum kepadanya. Dan jika engkau pergi darinya, engkau tetap merasa aman tentang dirinya dan hartamu. Dan di antara kesengsaraan adalah wanita yang apabila engkau memandangnya, engkau merasa enggan, lalu dia mengungkapkan kata-kata kotor kepadamu. Dan jika engkau pergi darinya, engkau tidak merasa aman atas dirinya dan hartamu.” (HR. Ibnu Hibban di dalam as-Silsilah ash-Shahihah, hadits no. 282).
Tampak jelas, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan empat karakteristik wanita shalihah. Keshalihan seorang wanita tidak hanya terbatas pada banyaknya shalat, puasa, haji, umrah atau banyak berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla. Empat sifat atau akhlak di atas berkaitan dengan kepuasan dan ridha suami terhadap istri, dari mulai sikap mentaati, berhias, dan menjaga diri serta memelihara harta sang suami.
Seorang wanita, apabila shalat dengan baik, qiyamul-lail hingga kakinya bengkak, selalu berpuasa, dan lisannya senantiasa berdzikir serta berhijab dengan sempurna, ia tidak bisa disebut sebagai wanita shalihah apabila ia selalu melawan suami, berpenampilan kurang sedap di hadapan suami, bersikap kurang ramah dan tidak menjaga dirinya, serta membelanjakan harta suami tanpa seizinnya.
Oleh karenanya, keberadaan wanita shalihah semestinya dipandang dari tujuan utama dicipta wanita, yaitu berfungsi sebagi sumber ketenangan dan ketenteraman suami. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu dari istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar0benar terdapat tanda-tanda bagi kamu yang berfikir. (QS. Ar-Rum: 21)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/01/27369/seperti-apa-istri-yang-shalihah-itu/#ixzz2K6iRpFQH

anti bm

Anti-BM

fb DSC_6594
Mungkin akan ada yang alergik atau tak suka bila dibicara mengenai baitul muslim. Tak kurang juga yang mengomel, “Sikit-sikit BM. Sikit-sikit BM. Itu je yang ikhwah tahu.” <sambil buat muka muncung>
Tak kisahlah apa yang nak dikata. Posting ini lebih kepada perkongsian dan pengalaman dakwah yang boleh kita muhasabah bersama. Kalau-kalau ada yang pernah merasainya, atau sedang berhadapan dengannya.
Pernah suatu ketika dahulu, saya pernah dimomokkan tentang satu frasa.
“Kahwin ini adalah alat untuk dakwah. Kalau kahwin akan melambatkan dakwah, tak payah kahwin.”
Ungkapan yang direct. Ada benarnya. Tapi acap kali disalah guna. Konflik alat dan matlamat sering kali dijadikan modal murobbi untuk mematikan hujah mutarobbi.
“Enta nak BM ni, amal qowiyy ke amal dhoif?. Kalau melambatkan dakwah, jadi amal dhoif. So, tak payah kahwin.” Ulas Sang Murobbi bila mutarobbi menyatakan hasrat untuk berBM.
Murobbi Yang Tidak Supportive Dalam Urusan BM
BM ini urusan yang sangat peribadi. Sang Mutarobbi hanya akan luahkan hasrat hendak berBM kepada yang dekat dengannya saja. Idealnya, yang paling dekat dengannya haruslah Sang Murobbi.
Penyakit kita hari ini, murobbi cenderung untuk tidak mengulas tentang BM, sama ada dalam taujihat mahupun muayasyah dengan mutarobbi. Apatah lagi sekiranya murobbi itu sendiri belum berBM.
Setiap kali diluahkan hasrat untuk berBM, Sang Murobbi mula mengalih topik atau mematikan luahan tersebut dengan hujah-hujah ‘alat vs matlamat’. Akhirnya, Sang Mutarobbi putus asa, melupakan hasrat atau mula mencari-cari calon pasangan di luar.
Akhirnya, Sang Murobbi melabel Sang Mutarobbi – tidak meyakini fikrah, cair, kalah dengan godaan dunia dan macam-macam lagi.
Murobbi Tak Ditsiqahi 
Ada mutarobbi yang tidak tsiqah dengan murobbi bila tiba bab BM. Mereka cenderung mencari ‘orang lain’ untuk mengurusi urusan yang besar ini. Boleh jadi yang dirujuk itu ‘orang dalam sistem’, boleh jadi juga yang ‘diluar sistem’.
Kenapa agaknya terjadi begini? Boleh jadi kerana murobbi tidak pernah bertanyakan tentang hasrat si mutarobbi. Boleh jadi, si murobbi seringkali mengulang-ulang point yang berbaur ‘anti-BM’ dalam taujihat-taujihatnya. Boleh jadi juga, si murobbi, bila dibicarakan tentang BM, mula berkerut muka, menunjukkan reaksi kurang senang dan menyampah. Muhasabahlah.
Ana pernah mengenali seorang akhowat dari Indonesia yang belum berBM, tapi ilmunya tentang BM sangatlah hebat. Seolah-olah telah berkahwin bertahun-tahun. Nah, inilah contoh murobbiyah yang ditsiqahi untuk menguruskan perihal BM mutarobbinya.
Janganlah sebab kita belum berBM, kita patahkan harapan mutarobbi kita untuk berBM. Tak bagi langkah bendul agaknya.
Tak Serius Bila Bicara Tentang BM
Ada juga penyakit usrah hari ini, tatkala bicara mengenai BM, akan diselit gelak tawa dan gurauan yang melampau. Seolah-olah hal itu bahan basahkan gusi. Gosip da’i barangkali. Lama kelamaan, elemen kedua dalam marotib amal ini dipandang tidak lebih dari sekadar penghidup suasana. Dalam usrah dan daurah yang penuh keseriusan, bila dibuka topik BM, semua mula ‘hidup’ dan tidak semena-mena menjadi hyperaktif.
Murobbi Yang Melambat-lambatkan Proses BM
Zaman sekarang semuanya mudah. Dengan adanya email, FB, skype, smartphones, tablets dan macam-macam lagi, seharusnya urusan BM ini menjadi lebih pantas dan tangkas. Malang bagi sesetengah mutarobbi apabila murobbinya mengambil enteng urusan ini. Sudah diamanahkan menjadi orang tengah, namun bermudah-mudah dalam menyatukan dua jiwa. Borang BM yang dipohon ambil masa sehingga 2-3 bulan untuk siap dihantar. Emel tidak dibalas. Skype tiada respon.
“Afwan akhi. Ana tak sempat lagi nak contact murobbiyah akhowat tu. Afwan sangat-sangat. Ana tengah sibuk uruskan program itu dan ini. Nanti kalau dah dapat, ana beritahu enta.” Alasan biasa seorang murobbi atau mas’ul. Dua tiga bulan berlalu, masih tiada berita.
Gimana sih?
Usrahmates Yang Anti-BM
Boleh jadi juga, penyakit ini bukan melibatkan murobbi tapi ahli usrah (usrahmates) yang tidak supportive dalam urusan ini. Tambah-tambah lagi bila diri sendiri belum berBM atau ada sentimen anti-BM. Penyakit ini amat bahaya dalam tarbiyyah usrah itu.
Pabila salah seorang ahli usrah cuba curhat tentang hasrtanya hendak berBM, usrahmates yang lain mula membuat muka atau lebih teruk lagi, meninggalkan liqo’ serta-merta. Dengan alasan ke toilet. Seolah-olah, menyampah benar dengan terminologi BM ini. Bukankah ia salah satu tangga dalam rukun amal kita?
Mungkinkah sikap ini lahir dari perasaan hasad kita terhadap usrahmates? Atau kerana kita sendiri memang ada pemikiran, kahwin ini melambatkan dakwah? Atau kerana kita takut, bila usrahmates kita sudah berBM, dia akan meninggalkan kita dan meluangkan lebih banyak masa dengan bakal suami/isteri? Atau mungkin kita sendiri memang ada perasaan anti-BM?
Kalau ada, cepat-cepatlah rawat.
BM Urusan Yang Mengubah Kehidupan
Ikhwah dan akhowat yang dirahmati Allah, ketahuilah bahawa urusan pernikahan ini adalah sebuah urusan yang sangat besar. Ia adalah turning point penting dalam perjalanan kehidupan seseorang manusia. Urusan yang besar ini tidaklah mudah untuk diurusi seorang diri. Perlunya sokongan dan dokongan daripada murobbi dan usrahmates yang katanya meyakini jalan dakwah ini.
Jika dibiarkan ikhwah/akhowat menanggung beban mengurus urusan BM seorang diri. Di mana letaknya rukun usrah yang kita war-warkan sebelum ini – taaruf, tafahum, takaful.
Benarkah Kahwin Melambatkan Dakwah?
Sebelum memutuskan untuk berBM, ana pernah bertanya beberapa orang qudama’ yang telah lama dalam dakwah tentang persoalan ini. Soalan ana jelas, “Macam mana nak tahu kita kahwin ni akan melambatkan dakwah, atau melajukan dakwah?”
Jawapan daripada para qudama’ yang ditanya ringkas tapi menjurus kepada maksud yang sama.
“Mana enta tahu kahwin tu akan melambatkan dakwah. Enta kahwin pun belum lagi.”
“Apa soalan enta tanya ni? Kalau dah rasa nak kahwin, dah cukup semua, kahwin je.”
“Mana ada neraca yang boleh ukur benda ni akhi. Enta BM je dulu. Lepas tu baru tahu.”
“As long as enta maintain dalam dakwah, BM ni pasti akan melajukan dakwah.”
Dengan tidak semena-mena, ana terus membuang jauh-jauh ungkapan yang ana pegang selama ini.
“Kalau kahwin melambatkan dakwah, jangan kahwin.”
Sebaliknya, ana gantikan dengan;
“Berkahwinlah. Sesungguhnya dengan berkahwin itu, kita mengamalkan sunnah dan menyelesaikan separuh dari agama. Termasuklah daripada agama itu ialah dakwah”